Earth

PROMOSI PENDIDIKAN DI KENYA

Pada tanggal 30 September hingga 1 Oktober 2016 untuk pertama kalinya Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta mengikuti pameran pendidikan di kota Nairobi Kenya di Afrika Timur. Pameran dilanjutkan di kota Mombasa tanggal 4 Oktober 2016.

Keikutsertaan tersebut merupakan bentuk respon aktif atas surat dari kepala perwakilan RI di Nairobi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI Soehardjono Sastromihardjo terkait penyelenggaraan kegiatan International Student Fairs Africa (ISFA) di Nairobi tanggal 30 September – 1 Oktober 2016 dan Mombasa 4 Oktober 2016. Surat tersebut ditindaklanjuti oleh surat undangan dari Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia kepada beberapa universitas di Indonesia, salah satunya adalah UPN “Veteran” Yogyakarta untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Perwakilan dari UPN “Veteran” Yogyakarta adalah Dr. Machya Astuti Dewi, M.Si. yang merupakan dosen jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta. Pertimbangan menunjuk dosen FISIP adalah karena pameran ISFA lebih berorientasi ke ilmu-ilmu sosial humaniora. Trend menyekolahkan anak ke luar negeri saat ini sedang berkembang di Kenya. Kalangan keluarga kaya di kota-kota besar seperti Nairobi dan Mombasa terlihat antusias dalam mencari informasi universitas di luar negeri. Selama pameran pendidikan berlangsung, fenomena antusiasme pelajar mencari informasi pendidikan S1 dan S2 di luar negeri sangat terlihat, terutama di kota Mombasa yang merupakan kota industri di Kenya dan terdapat banyak keluarga dengan level ekonomi atas yang sangat tertarik menyekolahkan anaknya di luar negeri

Selain melakukan pameran pendidikan di Nairobi dan Mombasa, delegasi dari Indonesia juga mendapat kesempatan diterima secara resmi pada tanggal 29 September 2016 oleh Duta Besar Indonesia untuk Kenya: Bapak Soehardjono Sastromihardjo di kantor KBRI Nairobi. Dalam kesempatan itu Dubes RI menjelaskan bahwa siswa lulusan SMA di Nairobi dan Mombasa yang berminat melanjutkan studi cenderung memilih kuliah di universitas-universitas di Inggris. Khusus untuk siswa Muslim mereka cenderung memilih Malaysia sebagai negara tujuan utama untuk melanjutkan studi. Hal ini bukan saja karena latar belakang kesamaan agama, tetapi juga karena faktor historis bahwa kedua negara tersebut adalah sama-sama negara bekas jajahan Inggris yang bergabung sebagai negara protektorat Inggris (commonwealth). Sebagai sesama negara protektorat Inggris kendala bahasa sama sekali tidak ditemui bagi siswa Kenya yang meneruskan studi di Malaysia, karena kaum terpelajar di dua negara ini sama-sama penutur aktif bahasa Inggris.

Menurut Dubes Soehardjono kondisi tersebut tentu saja berbeda dengan Indonesia. Bahasa Inggris belum menjadi bahasa kedua yang secara aktif digunakan oleh komunitas akademis di universitas-universitas di Indonesia. Hal ini menjadi hambatan tersendiri ketika komitmen untuk membuka kelas internasional muncul. Kendala utama muncul dari sulitnya menyiapkan sumberdaya manusia yang cakap berbahasa Inggris, baik dari unsur dosen maupun tenaga kependidikan. Meskipun demikian, fakta bahwasanya siswa siswi dari keluarga Muslim di Kenya cenderung memilih Malaysia sebagai negara untuk melanjutkan studi S1 dan S2 sangat penting untuk dicermati. Preferensi mereka memilih negara yang sama-sama penganut Islam menjadi peluang yang perlu diperhatikan dan selanjutnya dikelola. Sebagai negara muslim, Indonesia memiliki potensi besar untuk menarik perhatian siswa siswi Kenya agar melanjutkan studi S1 atau S2 di Indonesia.

Bagikan