Earth

Webinar Nasional : “LESSON LEARNED/STRATEGI NEGARA-NEGARA ASEAN DALAM MEMULIHKAN INDUSTRI PARIWISATA AKIBAT COVID-19 DAN RESPON GLOBAL”

Covid-19 memberikan dampak kurang baik bagi berbagai negara, mulai dari sektor ekonomi, kesehatan, keamanan hingga pariwisata. Seperti yang kita ketahui di era pandemi seperti sekarang membuat masing-masing negara melakukan lockdown atau membatasi masuknya turis ke negara mereka. Hal tersebut tentu saja berdampak pada kegiatan pariwisata dan dapat menyebabkan kerugian, lantas bagaimana respon tiap negara dalam mengatasi hal tersebut?

Untuk mendiskusikan kekhawatiran masyarakat global terkait hal ini, Laboratorium Organisasi Internasional, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, UPN “Veteran” Yogyakarta mengadakan sebuah webinar bertema “Lesson Learned/Strategi Negara-Negara ASEAN dalam Memulihkan Industri Pariwisata Akibat Pandemi Covid-19 dan Respon Global” secara daring dan dihadiri kurang lebih 650 peserta pada hari Kamis (15/08/2020)

Webinar ini juga turut menghadirkan para Duta Besar, Kuasa Hukum Adi Interim serta praktisi pengajar dari President University, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta sebagai pembicara. Diharapkan webinar ini dapat memberikan insight baru serta menghasilkan lesson learned bagi negara-negara ASEAN dalam memulihkan pariwisata di negaranya.

Rektor UPNVYK, Bapak Dr. Mohammad Irhas Effendi, M.S mengatakan dalam pidato pembukanya bahwa kegiatan ini menjadi forum ilmiah untuk mempertemukan para akademisi maupun praktisi dalam membahas kondisi aktual dan tantangan, serta barang kali juga peluang yang ada ditengah pandemi Covid-19. “Pariwisata merupakan sektor andalan dalam menopang ekonomi negara, namun karena adanya covid-19 ini keterbukaan transportasi antar wilayah, antar daerah hingga antar negara tertutup yang menyebabkan terganggunya perkembangan wisata. Dalam konteks ini, Indonesia perlu memahami peluang apa yang tercipta dibalik adanya ancaman yang ada dan sedapat mungkin bagaimana mengubah ancaman ini menjadi peluang untuk berinovasi” sambungnya.

Acara dilanjutkan dengan memasuki penjelasan dari pembicara pertama yaitu Bapak H.E. Mr. M. Wahid Supriyadi, Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus (2016-Juli 2020). Bapak Wahid menjelaskan bahwa langkah pertama yang diambil oleh pemerintah Rusia dalam merespon Covid-19 adalah dengan menetapkan aturan yang sangat ketat. Ada 90 ribu orang lebih yang terkena denda karena melanggar aturan, enforcement ini penting dan perlu karena sepertinya masih kurang di Indonesia. Langkah selanjutnya adalah mempromosikan wisata domestik, menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat untuk hotel dan transportasi umum, kemudian membuka penerbangan internasional berdasarkan reciprocal basis, serta memberikan insentif pada dunia industri. Bapak Wahid juga menyarankan beberapa hal kepada pemerintah Indonesia antara lain yaitu penanganan Covid-19 yang dilakukan secara transparan, menetapkan wilayah berdasarkan tingkat keberhasilan penanganan dan penerapan standar ketat transportasi dan hotel, kemudian sama seperti Rusia diharapkan Indonesia dapat mempromosikan wisata domestiknya.

Pembicara kedua, Ibu H.E. Mrs. Sri Astari Rasjid, Duta Besar RI untuk Bulgaria merangkap Albania (2016-2020) berbagi pengalamannya selama bertugas di tengah pandemi Covid-19. Ibu Sri Astari mengatakan “Di masa pandemi ini saatnya produk-produk UMKM bisa ditingkatkan mutu dan kualitasnya supaya tidak kalah bersaing dengan produk-produk buatan Thailand, Vietnam maupun China. Mungkin Kemenpar dapat mengadakan lomba bersakala nasional secara online untuk menciptakan produk-produk inovatif yang berkualitas internasional serta memberi kesempatan kepada desainer lokal untuk inovatif berkarya disaat lockdown. Kualitas produk Indonesia masih perlu ditingkatkan dan disempurnakan jika kita ingin mengembangkan potensi UMKM untuk bersiap menghadapi dan menerima wisatawan global setelah new normal”. Dapat kita garis bawahi bahwa pendekatan diplomasi budaya dapat menjadi salah satu strategi dalam memulihkan pariwisata di Indonesia.

Penjelasan beranjak ke pembicara selanjutnya dari Bapak H.E. Mr. Suprapto Martosetomo, Duta Besar RI untuk Afrika Selatan (2014-2017). Bapak Suprapto mengatakan untuk mempersiapkan diri, ada 3 kondisi yang harus diciptakan yaitu nyaman, aman dan menawan. Lalu upaya yang dapat dilakukan antara lain kedisiplinan kita semua serta kesiapan pemerintah dalam menyiapkan infrastruktur. Dikatakan juga bahwa kuncinya adalah soft diplomacy, “Diharapkan bagaimana kita menyiapkan diri di Indonesia dalam mengatasi kekurangan-kekurangan dalam bersaing dengan negara lain, khususnya negara-negara tetangga. Dalam persaingan ini kita dapat melihat celah yang bisa kita pelajari dengan baik, dan celah inilah yang akan kita laporkan ke pusat agar bisa ditiru untuk inovasi dalam negeri” sambungnya.

Selanjutnya, Kuasa Usaha Adi Interim KBRI Bangkok, Bapak Dicky Komar menjelaskan kondisi covid-19 di Thailand. Pada hari webinar diadakan jumlah infeksi sebanyak 3.665 dengan penambahan kasus baru sebanyak 13, namun dalam kurang lebih 4 bulan terakhir Thailand mampu mempertahankan penambahan kasus pada 1 digit. Mulai dari kebijakan lockdown hingga dibuatnya paket stimulus pariwisata Thailand (Juli-Oktober 2020), kebijakan yang diambil pemerintah bersifat substain evaluation yang artinya dilakukan terus evaluasi pada kebijakan tersebut. Thailand juga sangat berhati-hati, apabila ada kasus transmisional maka langsung mengisolasi diri. Hal tersebut dilakukan demi menjaga reputasi Thailand. Dikatakan juga ada kebijakan inovatif lain yang dapat menjadi pelajaran bagi negara lain yaitu Medical Tourism dan Special Tourist Visa (STV). Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dipastikan untuk bisa dipahami oleh semua tingkatan masyarakat, dari pembuat kebijakan hingga pedagang kaki lima. Pemerintah Thailand juga menganut konsep ‘’nobody save until everybody saved’’ yang menjadi acuan untuk terus memberlakukan protokol walaupun kasus COVID-19 dinegaranya sudah sangat membaik.

Dilanjutkan oleh pembicara ke-5 yaitu Ibu Maria Jacinta Arquisola (Dean, School of Bussiness President University). Dalam pemaparannya, ibu Maria lebih memusatkan penjelasannya pada bagaimana Covid-19 mempengaruhi perekonomian Filipina serta bagaimana Filipina menanganinya. Dijelaskan bahwa commodity utama devisa negara juga merupakan hasil dari hiburan wisatawan yang dimana sebagian besar wisata Filipina adalah wisata alam yang masih natural dan sangat eco-friendly, seperti cagar alam, amusement park dan sejenisnya. Maka dari itu, dengan diberlakukannya lockdown atau yang kita kenal dengan PSBB di Indonesia, tempat-tempat wisatawan menjadi sangat sepi dan tentunya mengalami kerugian yang besar. Lalu, bagaimana Filipina menanganinya? Berdasarkan research data dari PATA research, dinyatakan bahwa ‘’domestic tourism is the key to recover from the recetion’’ Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan Ibu Maria “If you want to recover from the virus, we need to focus more to domestic demand than international demand”. Hal inilah yang menjadi prioritas utama dari pemerintah Filipina.

Penjelasan selanjutnya, bapak Usmar Salam (Pengajar Pariwisata dalam Hubungan Internasional DIHI UGM) menerangkan mengapa kita perlu membicarakan tentang pariwisata, karena hampir 90% lebih negara di dunia ini merupakan sektor pariwisata. Dikatakan demikian karena pariwisata ini bisa mendatangkan devisa negara, memberikan lapangan pekerja yang banyak serta memberikan pemerataan di tiap-tiap daerah. Menurut bapak Usmar ada bebarapa indikator suksesnya pariwisata, pertama, apabila bisa menarik wisatawan asing sebanyak mungkin dan yang kedua yaitu seberapa besar mereka itu belajar. Yang menjadi ukuran lainnya adalah sejauh mana negara tersebut bisa mempromosikannya.

Beralih ke pembicara terakhir yaitu ibu Desy Nur Aini Fajri (Ketua lab. Organisasi Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta) yang memfokuskan penjelasannya pada membangun inovasi dan sinergi pariwisata di era new normal. Ibu Desy menyoroti ASEAN Tourism Strategic Plan (2016-2025), dimana pariwisata ASEAN memang terfokus pada tiga hal, yakni inklusif, green, dan knowledgebase. Dalam mencapai visi tersebut, selain tantangan dari safety and security, terdapat dua hal lainnya yaitu pemasaran dan promosi secara intensif. Artinya adalah penting dilakukan secara digital konten berkualitas yang mampu meng-attrack pasar dan mampu meningkatkan partisipasi lokal peneliti dalam setiap rantai nilai pariwisata. Disamping itu semua memang terdapat beberapa kendala yaitu bagaimana mengembangkan aspek manusianya, karena interaksi manusia saat ini sudah mulai tergantikan oleh teknologi.

Bagikan