Earth

KSM IRONFIRE hadirkan UNDP INDONESIA dalam Diskusi Human Security di Era Digital

Ditulis oleh: KSM IRON FIRE

Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) IRON FIRE UPN “Veteran” Yogyakarta kembali mengadakan event besar tahunan, yaitu IRON FIRE Training Event for Empowered Expression 2025 atau biasa disebut dengan IGNITE 2025. Kegiatan pelatihan literasi digital berbasis human security tahun ini mengusung tema “From Scroll to Secure: Gen Z & Tantangan Human Security di Era Digital” yang berlangsung pada Sabtu, 13 September 2025 di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN “Veteran” Yogyakarta.

Kegiatan ini dihadiri oleh Bapak Aryanta Nugraha, SIP, M.Si, MA, Ph.D selaku ketua jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta, Bapak Nikolaus Loy, DR, MA selaku kepala Laboratorium Pertahanan dan Keamanan UPN “Veteran” Yogyakarta, seluruh anggota KSM IRON FIRE, para tamu undangan, serta peserta yang telah mendaftar. Kegiatan ini dibuka oleh MC pada pukul 08.30 WIB kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Bela Negara. Setelah itu dilanjutkan oleh sesi sambutan yang disampaikan oleh Vanessa Euphrasia selaku ketua panitia IGNITE 2025, Muhammad ‘Ammar Mahdy selaku ketua KSM IRON FIRE, Bapak Nikolaus Loy, DR, MA selaku kepala Laboratorium Pertahanan, dan Bapak Aryanta Nugraha, SIP, M.Si, MA,Ph.D selaku ketua jurusan Ilmu Hubungan Internasional.

Setelah kata sambutan, acara IGNITE 2025 dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh narasumber-narasumber yang kompeten dibidangnya. Pembicara pertama yaitu bapak Siprianus Bate Soro, MA. yang menjabat sebagai Head of Risk, Resilience, and Governance Unit di UNDP. Bapak Siprianus membawakan materi mengenai The Role of UNDP in Promoting Human Security Within Global Frameworks. Beliau menegaskan bahwa pencegahan ekstremisme harus berbasis hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan rule of law, dengan melibatkan pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, pemuda, hingga sektor swasta. Materi kedua disampaikan oleh Aliyya Zahra Mezzaluna yang merupakan mahasiswa aktif Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta angkatan 2023 sekaligus anggota dari KSM IRON FIRE. Luna membawakan materi tentang Youth Resilience dan relevansinya dengan kehidupan Gen Z di era sekarang. Luna menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda dalam konteks human security, mulai dari stereotip negatif, fenomena sosial (cancel culture, cyberbullying, body shaming, FOMO, hingga climate anxiety), serta kerentanan mental. Namun, Luna menekankan bahwa Gen Z bukan generasi rapuh, melainkan agen perubahan yang mampu mengubah kerentanan menjadi kekuatan.

Materi ketiga disampaikan oleh Bapak Nikolaus Loy, DR, MA yang merupakan dosen Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta. Beliau membawakan materi yang berjudul “Globalisasi Neoliberal, Prekaritas, dan Keamanan Manusia”. Beliau menjelaskan bagaimana globalisasi neoliberalisme membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, terutama dalam menciptakan kondisi precarity (ketidakpastian hidup). Beliau menekankan perlunya kesadaran kritis generasi muda untuk memahami dampak neoliberalisme, sekaligus mendorong alternatif pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Setelah penyampaian materi oleh ketiga pembicara tersebut, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada tiga pemateri yang dipandu oleh moderator. Para peserta terlihat aktif dan antusias dalam menyampaikan pertanyaan mereka mengenai peranan Gen Z serta human security. Sesi selanjutnya adalah penyerahan sertifikat kepada tiga pemateri yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi terakhir sekaligus workshop kepenulisan oleh Bapak Ariesani Hermawanto, S.IP., M.Si, Ph.D. Dalam materinya sendiri, Bapak Ariesani menjelaskan mengenai Simple Writing Guide. Beliau menyampaikan pesan bahwa generasi muda perlu menguasai alat analisis ilmiah untuk mengkaji isu-isu kontemporer, sehingga penelitian mereka relevan, kritis, dan mampu memberi kontribusi nyata. Setelah menyampaikan materi, acara kemudian berlanjut ke sesi workshop interaktif yang menjadi inti dari acara ini. Dalam sesi workshop, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas berbasis isu human security yang telah dipelajari sebelumnya. Kegiatan ini tentunya tidak hanya bertujuan memperdalam pemahaman peserta, tetapi juga melatih keterampilan analisis, kerjasama, dan keberanian dalam menyampaikan gagasan. Hasil karya kemudian dipresentasikan dan diberi masukan langsung dari Bapak Ariesani. Sebagai penutup rangkaian, acara dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada pembicara sebagai bentuk apresiasi.

Dengan diselenggarakannya IRON FIRE Training Event for Empowered Expression 2025, diharapkan kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan ide-ide besar, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam mengenai bagaimana generasi muda dapat bergerak “From Scroll to Secure”, dari sekadar konsumen informasi digital menjadi agen perubahan yang sadar akan pentingnya Human Security. Melalui pemahaman lintas isu, mulai dari ekstremisme, kesehatan mental, dampak neoliberalisme, hingga keamanan digital, generasi muda diajak untuk meneguhkan perannya sebagai garda terdepan dalam mewujudkan dunia yang lebih adil, aman, dan berkelanjutan.

Bagikan