Earth

Belajar Diplomasi lewat Konflik Lebanon

Lebanon, satu negara di kawasan Timur Tengah yang dikenal memiliki stabilitas politik yang tidak stabil. Negara ini beberapa kali dilanda perang akibat konflik horizontal, misalnya pada era 1975-1990 dan pada 2006 silam. Hingga saat ini pun, Lebanon masih dijaga oleh banyak anggota militer dari berbagai negara yang diutus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjaga keamanan di sana. Pasukan itu termasuk pasukan Kontingen Garuda, yang berdasarkan data dari Kementerian Luar Negeri berjumlah 1.234 orang. Secara geografis, Lebanon berbatasan dengan Suriah di sisi utara, dan Israel di sisi selatan. Kedua negara tetangganya itu merupakan negara yang masih terlibat perang dan saat ini Lebanon tengah ada dalam tumpukan krisis yang bukannya terurai, namun justru makin bertambah dengan adanya ledakan besar yang menewaskan ratusan orang. Krisis yang dialami sudah berlangsung dalam waktu yang lama dan belum juga bisa diselesaikan hingga saat ini. Ditambah dengan krisis ekonomi dan kelaparan yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 dan terbaru akibat ledakan mematikan, Lebanon disebut benar-benar dalam kondisi yang tidak mudah.

Lalu mengapa Indonesia masih sangat berminat melakukan arah diplomatic politik nya ke Lebanon dalam upaya mendorong pemulihan negara-negara berkonflik dan percepatan transisi ke nilai-nilai demokratik, di wilayah Timur Tengah. Bagaimana sebenarnya arah diplomatic Indonesia? Untuk menjawab rasa penasaran tersebut KSM Diplomacy Studies dari Laboratorium Diplomasi Jurusan HI FISIP UPN Veteran Yogyakarta pada tanggal 16 September 2020 mencoba mengulik permasalahan tersebut dengan sharing idea dalam acara Webinar dengan judul “Dinamika Konflik dan Diplomasi Lebanon”. Untuk membahas lebih lanjut tentang konflik horizontal yang terjadi di Lebanon, dan bagaimana penyelesaian diplomatic dalam konflik tersebut termasuk melihat peran Diplomasi Indonesia. Webinar ini mengundang beberapa panelis yang ahli dalam bidang terkait yaitu Dr. Ariesani Hermawanto, M.Si, Ali Bin Zeid, MA, dan Dra. Harmiyati, M.Si. Ketiga panelis telah menyampaikan materi yang informatif dan menarik dengan pembagian fokusnya masing-masing yaitu diplomasi Lebanon, konflik dalam negeri Lebanon, dan konflik luar negeri Lebanon. Acara dipandu secara interaktif oleh moderator Edith Nazaretha yang merupakan mahasiswi HI UPN Veteran Yogyakarta dan salah satu anggota KSM Diplomacy Studies. Dan acara ini juga dimeriahkan dengan kehadiran bapak Bagas Hapsoro S.H., M.A, mantan Duta Besar Indonesia untuk Lebanon tahun 2007/09 yang telah berkenan hadir dan membagikan pengalaman tugasnnya. Webinar berlangsung selama 3 jam dimulai pukul 10.00 dan selesai pada jam 13.00. Jumlah peserta terbanyak pada webinar tercatat mencapai 209 peserta.

Bagikan